29.5 C
Jakarta
Rabu, 21 April, 2021
ads
Beranda Hotel, Resort & Villas Hotel Des Indes Batavia, termegah di Asia, sarat nila historis

Hotel Des Indes Batavia, termegah di Asia, sarat nila historis

ANDAI saya menjadi penguasa Orde Lama atau Orde Baru, saya tidak akan pernah meruntuhkan bangunan-bangunan sejarah yang ada di Indonesia. Salah satu bangunan sarat historis di Batavia, “Jakarta Tempo Doeloe” adalah Hotel des Indes. Di hotel yang beroperasi 1856-1960 di Weltevreden, Batavia, persis di sebelah Postspaarbank [sekarang Menara BTN] inilah Perjanjian Roem Royen (juga disebut Perjanjian Roem-Van Roijen) ditanda-tangani pada 7 Mei 1949.

Namanya diambil dari kedua pemimpin delegasi, Mohammad Roem dan Herman van Roijen. Perjanjian ini dibuat untuk menyelesaikan beberapa masalah mengenai kemerdekaan Indonesia sebelum Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag pada tahun yang sama. Hadir pada saat perjanjian itu Mohammad Hatta yang didatangkan dari pengasingannya di Pulau Bangka, juga Sri Sultan Hamengkubuwono IX dari Yogyakarta. Hotel des Indes benar-benar hotel bersejarah.

Sejarah hotel ini juga sangat panjang. Reinier de Klerk merupakan pemilik tanah untuk lokasi hotel ini sejak 1760. Tanah dan rumah di atasnya dijual de Klerk kepada C. Postmans pada 1774. Pada 1824 tanah dan bangunan dibeli pemerintah untuk sekolah asrama putri. Pada 1829, tanah dan bangunan di atas lokasi dibeli orang Prancis bernama Antoine Surleon Chaulan yang mendirikan sebuah hotel bernama Hotel de Provence.

Pada 1845, putra Etienne Chaulan mengambil alih hotel dari tangan ayahnya. Pada 1851, di bawah manajemen Cornelis Denning Hoff, hotel ini berganti nama menjadi Rotterdamsch Hotel. Pada tahun berikutnya (1852), hotel ini dibeli orang Swiss bernama François Auguste Emile Wijss yang menikah dengan keponakan perempuan dari Etienne Chaulan. Pada 1 Mei 1856, Wijjs menamakan hotel ini sebagai Hotel des Indes atas usulan Douwes Dekker.
Pada 1860, Hotel des Indes dijual Wijjs kepada orang Prancis bernama Louis George Cressonnier.

Setelah Cresonnier meninggal dunia pada tahun 1870, keluarganya menjual hotel ini kepada Theodoor Gallas. Pada 1886, Gallas menjual hotel ini kepada Jacob Lugt yang memperluas hotel secara besar-besaran dengan cara membeli tanah di sekeliling hotel. Setelah Lugt mendapat masalah keuangan, Hotel des Indes dijadikan perseroan terbatas N.V. Hotel des Indes pada 1897. Pada 1903, hotel ini berada di bawah manajemen J.M. Gantvoort sebelum dikelola Nieuwenhuys. John T. McCutcheon menulis pada 1910 bahwa Hotel des Indes di Batavia adalah hotel termegah di Asia.

Setelah Indonesia merdeka, hotel ini diambil alih pemerintah Indonesia pada 1960, dan diganti namanya menjadi Hotel Duta Indonesia. Pada 1971, bangunan hotel dibongkar habis dan berdirilah Pertokoan Duta Merlin yang sangat masyur di zamannya. Ini adalah pertokoan modern pertama di Jakarta, tempat orang-orang kaya zaman baheula buang uang. Di masanya, Duta Merlin diisi beberapa tenant top seperti supermarket Sarinah Jaya, Optik Tunggal, Duta Electronics, bakul cawat Rider dan Revlon. Di lantai teratas, lantai 5, ditempati lounge Jakarta Sky Room International tempat orang-orang kaya indehoi.

Saya sempat bingung juga tahun lalu Hotel des Indes dibuka di kawasan Menteng di Jl. HOS Cokroaminoto, Jakarta Pusat, persis di depan Keris Galeri. Saya pikir mau buka di komplek Duta Merlin hehehe…. Tapi okelah untuk sekadar mengenang hospitality Hotel des Indes di Batavia tempo doeloe. (Deddy H Pakpahan/dari berbagai sumber)

Foto: Wikipedia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

BERITA POPULER PEKAN INI

Wuihhh…, Adhi Commuter akan sulap pool PPD jadi komplek hunian TOD

PT ADHI COMMUTER PROPERTI--anak usaha BUMN PT Adhi Karya (Persero) Tbk. berencana menggandeng Perum Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD) untuk mengembangkan properti transit oriented development...

Dibanderol Rp5,5 miliar per unit, penjualan Saumata Suites di Alam Sutera moncer

PT SUTERA AGUNG PROPERTI mengungkapkan penjualan apartemen yang dibangunnya, Saumata Suites di Alam Sutera, Tangerang, cukup moncer. Sampai hari ini dari ratusan unit yang...

Summarecon Serpong tawarkan ruko Aristoteles mulai Rp3 miliar di Scientia Garden

DIBANDEROL mulai dari Rp3 miliaran, Summarecon Serpong, anak usaha PT Summarecon Agung Tbk., meluncurkan produk komersial Ruko Aristoteles di Serpong, Tangerang, Provinsi Banten. Executive Director...

Panorama Properti tawarkan ‘Panorama Bamboo Village’ di Bogor Timur

PANORAMA PROPERTI meluncurkan Panorama Bamboo Village, vila bambu bergaya bali di wilayah Bogor Timur, Jawa Barat. Ini adalah sebuah konsep peristirahatan nyaman, Yang diatasnya...