28 C
Jakarta
Rabu, 3 Maret, 2021
ads
Beranda Architecture & Design Frank Llyod Wright, tak punya pendidikan arsitektur tapi karyanya mendunia

Frank Llyod Wright, tak punya pendidikan arsitektur tapi karyanya mendunia

SEPULUH tahun lalu, tepatnya Mei 2010, The 61st World Congress of International Real Estate Federation (FIABCI) digelar di Nusa Dua, Bali. Temanya keren, “Save the World: Green Shoots for Sustainable Real Estate”. Fokus kongres ini membahas eco-property dan “green tourism”.

Saya diundang, waktu itu sebagai chief editor majalah “Asian Property Investment”, majalah berbahasa Inggris yang saya terbitkan dengan distribusi tak cuma di Indonesia tapi juga di Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok dan Hong Kong. Satu yang saya kejar saat itu adalah interview dengan Tom Wright, arsitek Inggris yang nama dan karyanya hotel Burj Al Arab saat itu menjadi sangat happening. Hotel tertinggi dan termahal di dunia.

Seluruh dunia membicarakan Burj Al Arab. Mereka memperbincangkan Tom Wright. Tak salah kalau satu pengembang lokal, Intiland Development meminta Tom Wright merancang Regatta. Bisa aja sih suruh arsitek lokal desain yang kayak gitu. Dunia arsitektur bukan seperti itu. Meski tak sedikit bangunan dibuat meniru arsitektur bangunan lain. Tapi, tetap seperti tak punya “roh”. Arsitek adalah ‘mastermind’ dari bangunan yang mereka rancang. Merekalah yang ‘meniupkan roh’ pada bangunan-bangunan yang mereka rancang.

Di dunia ini ada beberapa arsitek yang punya cukup pengaruh. Salah satunya adalah Frank Lloyd Wright. Dia lahir arsitek terkenal pada awal 1900-an. Wright menghabiskan masa mudanya di perkebunan pamannya di Wisconsin. Pada awal 1889, Wright mendesain rumah untuk keluarganya dan sebuah studio arsitektur pribadi di Oak Park, Illinois.

Mengembangkan serangkaian gaya yang amat bersifat perorangan, memengaruhi rancang bangunan di seluruh dunia, dan hingga saat ini masih merupakan arsitek ternama Amerika Serikat. Karya arsitektur Frank Lloyd Wright disebut sebagai salah satu dari banyak karya terbaik di dunia. Dia sudah merancang lebih dari 1000 struktur arsitektur yang 500 di antaranya sudah dibangun. Yang luar biasa dari arsitek ini dia tidak pernah menempuh pendidikan arsitektur formal.

Dia mempelajari arsitektur pada Louis Sullivan yang merupakan legenda di dunia arsitektur. Sullivan-lah yang sangat memengaruhi keunikan gaya desain arsitektur modern Wright. Karyanya a.l. The Guggenheim Museum (New York), Fallingwater Residence (Mill Run, Pennsylvania), Arizona State University Gammage Auditorium & Taliesin West (Arizona) dan Imperial Hotel (Tokyo) yang sangat menakjubkan. (Deddy H. Pakpahan/dari berbagai sumber)

Foto: highbrow.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

BERITA POPULER PEKAN INI

LRT City Cibubur besutan Adhi Commuter Properti, padukan konsep TOD dengan alam

MENDUKUNG konsep pengembangan Transit Oriented Development (TOD) dengan alam, PT Adhi Commuter Properti (ACP) meluncurkan hunian vertikal LRT City Cibubur. Mengusung konsep alam di...

Citramas Group dan Sinar Mas Land garap digital hub Nongsa D-Town

CITRAMAS GROUP dan dan Sinar Mas Land melalui perusahaan konsorsium PT Citra Sinar Global membangun proyek bertajuk Nongsa D-Town di Pulau Batam. Area tersebut...

Muse @Alesha Pool Villa, hunian tapak di BSD City berkonsep resor

KELOMPOK usaha Sinar Mas Land (SML) kembali memperkenalkan hunian terbarunya Muse @Alesha Pool Villa di Kawasan Vanya Park BSD City, hunian tapak dengan konsep...

60 Investor asing digadang-gadang minat masuk ke Subang Smartpolitan

PENGEMBANG dan pengelola Subang Smartpolitan, PT Suryacipta Swadaya (Suryacipta)—anak usaha PT Surya Semesta Internusa, Tbk—mengklaim sedikitnya 60 investor dari mancanegera berminat masuk ke kawasan...