28.1 C
Jakarta
Kamis, 2 Desember, 2021
ads
Beranda Hotel, Resort & Villas Ditolak check in di Hotel Des Indes, saudagar Arab ini bangun hotel

Ditolak check in di Hotel Des Indes, saudagar Arab ini bangun hotel

SEWAKTU Raja Salman dari Arab Saudi dan 1.500 anggota rombongannya datang ke Indonesia [mereka mengunjungi Jakarta dan Bal], semua hotel mewah membuka diri dan menggelar karpet merah. Di Jakarta sang raja menginap di Raffles dan di Bali dia menginap di St. Regis, Nusa Dua. Tapi nasib yang dialami Shaykh Salih bin Abdat tak sama dengan Raja Salman. Saudagar Arab ini ditolak saat mau check in di Hotel des Indes di Batavia pada 1920-an. Alasannya karena dia bukan orang Eropa. Tak ayal Shaykh Salih gagal menginap di hotel mewah itu.

Dia sangat berang. Lantaran merasa tajir melintir tapi ditolak check in di Hotel des Indes. Tak berselang lama, saking nafsunya, Shaykh Salih memutuskan membangun sebuah hotel yang lokasinya berhadapan dengan Hotel des Indes. Kemewahannya pun menyaingi Hotel des Inde. Hotel des Galleries namanya. Nggak mau main tanggung, saudagar Arab ini menggaet EGH Cuypers, arsitek terkemuka di Batavia.

Cuypers kemudian bekerja sama dengan AF Dijkstaal membangun gedung hotel yang posisinya berada di sudut pertemuan Molenvielt dan Noordwijk, yang sekarang merupakan pojok Jl. Hayam Wuruk berbelok ke arah Jl. Ir. H. Juanda, Jakarta Pusat. Hotel itu dikelola anaknya, Shaykh Salih bin Ubayd bin Abdat.

Hotel des Galleries yang menjadi kompetitor utama Hotel des Indes, letaknya saja sudah head to head [tinggal nyebrang] sampai sekarang masih berdiri kokoh. Hotel des Indea pesaingnya malah sudah roboh. Sayangnya, kondisi bangunan ini terbengkalai. Bila dibiarkan, bisa saja tak berapa lama lagi bangunan itu juga akan dihancurkan atau dirobohkan karena kondisinya yang makin merana.

Andai, ini andai ya, saya pebisnis hotel, saya tidak akan sia-siakan bangunan ini, mengingat nilai historisnya sebagai rival Hotel des Indes. Saya akan beli berapapun harganya bangunan lama hotel ini [harga buat saya nggak masalah, yang penting murah] dan saya akan pakai nama asli hotel ini: Hotel des Galleries. Kira-kira ada investor perhotelan yang berani membeli bangunan lama Hotel des Galleries, lalu merevitalisasinya? Saya yakin ini permata yang kini berada di dalam lumpur. Dan, permata akan tetap jadi permata. (Deddy H. Pakpahan/dari berbagai sumber)

2 KOMENTAR

  1. Cerita yang menarik untuk sebuah sejarah. Kebetulan hotel itu milik kakek buyut saya. Tulisan ini menjadi jejak internet kisah menarik keluarga. Terimakasih

    • Terima kasih untuk komentarnya. Boleh dong jadi narasumbernya kalau redaksi mau menulis lagi soal hotel bersejarah ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

BERITA POPULER PEKAN INI

Antasari Place, hunian mixed-use berkonsep human centered design

propertytoday.id - PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) menawarkan proyek terbarunya Antasari Place, sebuah hunian berkonsep mixed-use di new CBD Jakarta Selatan. Dalam merancang...

Milenial saatnya beli rumah untuk ditinggali dan investasi

propertytoday.id - KEMENTERIAN Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pada 2019 mencatat setidaknya 81 juta milenial yang belum memiliki hunian sendiri dengan berbagai alasan....

Kebijakan bebas karantina dibuka, Crown Group tawarkan 2 proyek prestisius

propertytoday.id - MENYUSUL DIBUKANYA kebijakan perjalanan bebas karantina, pengembang properti berbasis di Australia, Crown Group, memperkenalkan koleksi proyek terbarunya Griya Tawang Sydney Mastery dan...

Bank BTN siapkan pembiayaan 2022 untuk terciptanya ekosistem perumahan

propertytoday.id - MULAI MENGGELIATNYA perekonomian nasional pasca suksesnya program vaksinasi nasional Covid 19 mendorong para pemain di sektor perumahan menyiapkan berbagai strategi untuk memenuhi...