24 C
Jakarta
Kamis, 5 Agustus, 2021
ads
Beranda Hotel, Resort & Villas Ditolak check in di Hotel Des Indes, saudagar Arab ini bangun hotel

Ditolak check in di Hotel Des Indes, saudagar Arab ini bangun hotel

SEWAKTU Raja Salman dari Arab Saudi dan 1.500 anggota rombongannya datang ke Indonesia [mereka mengunjungi Jakarta dan Bal], semua hotel mewah membuka diri dan menggelar karpet merah. Di Jakarta sang raja menginap di Raffles dan di Bali dia menginap di St. Regis, Nusa Dua. Tapi nasib yang dialami Shaykh Salih bin Abdat tak sama dengan Raja Salman. Saudagar Arab ini ditolak saat mau check in di Hotel des Indes di Batavia pada 1920-an. Alasannya karena dia bukan orang Eropa. Tak ayal Shaykh Salih gagal menginap di hotel mewah itu.

Dia sangat berang. Lantaran merasa tajir melintir tapi ditolak check in di Hotel des Indes. Tak berselang lama, saking nafsunya, Shaykh Salih memutuskan membangun sebuah hotel yang lokasinya berhadapan dengan Hotel des Indes. Kemewahannya pun menyaingi Hotel des Inde. Hotel des Galleries namanya. Nggak mau main tanggung, saudagar Arab ini menggaet EGH Cuypers, arsitek terkemuka di Batavia.

Cuypers kemudian bekerja sama dengan AF Dijkstaal membangun gedung hotel yang posisinya berada di sudut pertemuan Molenvielt dan Noordwijk, yang sekarang merupakan pojok Jl. Hayam Wuruk berbelok ke arah Jl. Ir. H. Juanda, Jakarta Pusat. Hotel itu dikelola anaknya, Shaykh Salih bin Ubayd bin Abdat.

Hotel des Galleries yang menjadi kompetitor utama Hotel des Indes, letaknya saja sudah head to head [tinggal nyebrang] sampai sekarang masih berdiri kokoh. Hotel des Indea pesaingnya malah sudah roboh. Sayangnya, kondisi bangunan ini terbengkalai. Bila dibiarkan, bisa saja tak berapa lama lagi bangunan itu juga akan dihancurkan atau dirobohkan karena kondisinya yang makin merana.

Andai, ini andai ya, saya pebisnis hotel, saya tidak akan sia-siakan bangunan ini, mengingat nilai historisnya sebagai rival Hotel des Indes. Saya akan beli berapapun harganya bangunan lama hotel ini [harga buat saya nggak masalah, yang penting murah] dan saya akan pakai nama asli hotel ini: Hotel des Galleries. Kira-kira ada investor perhotelan yang berani membeli bangunan lama Hotel des Galleries, lalu merevitalisasinya? Saya yakin ini permata yang kini berada di dalam lumpur. Dan, permata akan tetap jadi permata. (Deddy H. Pakpahan/dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

BERITA POPULER PEKAN INI

Tawarkan rumah di bawah Rp2 miliar, Synthesis Huis usung konsep ‘biophilic homes’

SYNTHESIS DEVELOPMENT menghadirkan Synthesis Huis, produk hunian tapak (landed house) yang mengusung konsep "biophilic homes" dengan balutan gaya Skandinavia. Selain mengunggulkan konsep biophilic homes,...

Dilengkapi hotel bintang 4, Cibinong City Mall 2 ditargetkan rampung akhir 2022

PENGEMBANG Cibnong City Mall merencanakan membangun Cibinong City Mall 2 dilengkapi dengan hotel bintang 4. Proyek pengembangan mal ini direncanakan rampung akhir 2022 mendatang. Komisaris...

Masih dibayangi pandemi, BTN bukukan laba bersih Rp625 miliar di kuartal I-2021

SEPANJANG tiga bulan pertama di tahun 2021, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. kembali mencatatkan pertumbuhan positif kendati berada di bawah tekanan pandemi. Per...

BTN Lakukan terobosan berikan KPR bagi satu juta karyawan kontrak

MENDUKUNG program pemerintah di sektor perumahan, khsususnya Program Sejuta Rumah, Bank BTN melakukan terobosan dengan memberikan kredit pemilikan rumah (KPR) bagi sejuta karyawan berstatus...