26.7 C
Jakarta
Senin, 19 April, 2021
ads
Beranda Hotel, Resort & Villas Ditolak check in di Hotel Des Indes, saudagar Arab ini bangun hotel

Ditolak check in di Hotel Des Indes, saudagar Arab ini bangun hotel

SEWAKTU Raja Salman dari Arab Saudi dan 1.500 anggota rombongannya datang ke Indonesia [mereka mengunjungi Jakarta dan Bal], semua hotel mewah membuka diri dan menggelar karpet merah. Di Jakarta sang raja menginap di Raffles dan di Bali dia menginap di St. Regis, Nusa Dua. Tapi nasib yang dialami Shaykh Salih bin Abdat tak sama dengan Raja Salman. Saudagar Arab ini ditolak saat mau check in di Hotel des Indes di Batavia pada 1920-an. Alasannya karena dia bukan orang Eropa. Tak ayal Shaykh Salih gagal menginap di hotel mewah itu.

Dia sangat berang. Lantaran merasa tajir melintir tapi ditolak check in di Hotel des Indes. Tak berselang lama, saking nafsunya, Shaykh Salih memutuskan membangun sebuah hotel yang lokasinya berhadapan dengan Hotel des Indes. Kemewahannya pun menyaingi Hotel des Inde. Hotel des Galleries namanya. Nggak mau main tanggung, saudagar Arab ini menggaet EGH Cuypers, arsitek terkemuka di Batavia.

Cuypers kemudian bekerja sama dengan AF Dijkstaal membangun gedung hotel yang posisinya berada di sudut pertemuan Molenvielt dan Noordwijk, yang sekarang merupakan pojok Jl. Hayam Wuruk berbelok ke arah Jl. Ir. H. Juanda, Jakarta Pusat. Hotel itu dikelola anaknya, Shaykh Salih bin Ubayd bin Abdat.

Hotel des Galleries yang menjadi kompetitor utama Hotel des Indes, letaknya saja sudah head to head [tinggal nyebrang] sampai sekarang masih berdiri kokoh. Hotel des Indea pesaingnya malah sudah roboh. Sayangnya, kondisi bangunan ini terbengkalai. Bila dibiarkan, bisa saja tak berapa lama lagi bangunan itu juga akan dihancurkan atau dirobohkan karena kondisinya yang makin merana.

Andai, ini andai ya, saya pebisnis hotel, saya tidak akan sia-siakan bangunan ini, mengingat nilai historisnya sebagai rival Hotel des Indes. Saya akan beli berapapun harganya bangunan lama hotel ini [harga buat saya nggak masalah, yang penting murah] dan saya akan pakai nama asli hotel ini: Hotel des Galleries. Kira-kira ada investor perhotelan yang berani membeli bangunan lama Hotel des Galleries, lalu merevitalisasinya? Saya yakin ini permata yang kini berada di dalam lumpur. Dan, permata akan tetap jadi permata. (Deddy H. Pakpahan/dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

BERITA POPULER PEKAN INI

Panorama Properti tawarkan ‘Panorama Bamboo Village’ di Bogor Timur

PANORAMA PROPERTI meluncurkan Panorama Bamboo Village, vila bambu bergaya bali di wilayah Bogor Timur, Jawa Barat. Ini adalah sebuah konsep peristirahatan nyaman, Yang diatasnya...

Crown Group akan segera operasikan The Grand Shopping Center di Sydney

CROWN GROUP akan membuka pusat ritel ke The Grand Shopping Center yang berada di kawasan Eastlakes, pinggiran selatan di timur Sydney, pada Juli 2021. Direktur...

Kuartal I-2021 Program Sejuta Rumah telah menyasar 164.071 unit rumah

JUMLAH rumah yang dibangun dalam Program Sejuta Rumah pada kuartal I-2021 di seluruh Indonesia mencapai 164.071 unit. Capaian tersebut terdiri dari pembangunan rumah masyarakat...

Sukses tahap sebelumnya, Summarecon Bandung pasarkan klaster Flora 3

TINGGINYA antusiasme pembeli mendorong Summarecon Bandung terus membangun cluster baru. Setelah sukses memasarkan cluster Flora 1 dan 2 pada 2020 lalu, akhir pekan lalu...